Perasaan Sayang Menumbuhkan Kegigihan

April 09, 2012

Baca Juga

Di benak saya pernah terbersit secuil pertanyaan,

"Kenapa ya mereka (termasuk saya) masih kerasan untuk me-manage acara yang membuat pusing kepala ini? Daripada bikin pusing, kan mending berhenti aja dari acara ini,"

Yah, semacam itu pertanyaan yang sering muncul di kepala orang-orang awam. Saya pun sebagai orang yang sudah banyak nimbrung dalam proses kepanitiaan sebuah event tidak bisa lepas dari pertanyaan itu. Bagaimana tidak, acara-acara/ kegiatan yang selama ini saya bangun bersama teman-teman lain tak ayal memecah pikiran kami. Bahkan, tak jarang konflik-konflik selama menjalani proses kreatifnya bisa menimbulkan perang dingin sesama tim kerja.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya kerja-kerja kepanitiaan yang dijalani, saya kemudian tersadar bahwa, pertanyaan saya itu telah bertransformasi menjadi sebuah pernyataan. Pernyataan itu pula yang bisa menjelaskan mengapa saya (dan teman-teman lainnya) masih betah berkutat dengan kesibukan-kesibukan kepanitiaan hingga rela meninggalkan "yang lain". Semua tidak lain, (ternyata) karena rasa sayang.
Rasa sayang kami... Ketika rasa sayang itu sudah hinggap di sesuatu, sulit rasanya untuk melepasnya. Sama halnya, jika saya memaknai "kekeuh"nya kami (para tim panitia) tetap bertahan menjalani proses kreatif sebuah acara hingga acara itu berakhir. Karena kami sayang dengan "tempat" kami bernaung. Karena kami peduli dengan lembaga kami.

Meskipun sebuah event terkadang menimbulkan konflik sesama tim kreatif, menciptakan gurat-gurat amarah, membangun kondisi psikologis sensitif, sampai menitikkan air mata, namun kenyataannya tidak satupun dari pelaku tim kreatif mundur dari pelaksanaan kegiatan. Kami tetap maju bersama. Mengesampingkan ego masing-masing. Selalu ada maaf buat kesalahan masing-masing.

Rasa sayang yang sudah menancap pada sesuatu itu, baik materi maupun abstrak, selamanya sulit untuk dilepaskan. Meski setiap hari kita dihujani dengan kesalahan-kesalahan, namun besarnya rasa sayang itu layaknya air yang mengikis karang. Kita selalu saja bisa memaafkan. Kita memaafkan segala kesulitan dan rasa pusing yang dibebankan pada kita, dan selanjutnya tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Konflik-konflik yang sebelumnya tercipta dalam proses menghelat sebuah acara pada akhirnya akan luluh dengan tawa usai melaksanakan tugas masing-masing. Yang ada, hanya cerita-cerita (yang ditertawakan), seraya mengenang masa-masa sulit menjalani proses kreatif itu. Saya, tidak lagi mengingatnya sebagai sebuah konflik. Namun mengingatnya sebagai cerita-cerita unik yang akan ditertawakan dan dijadikan sebuah pelajaran.

"Begitu ya rasa sayang itu?"

Tidak kurang semacam itu. Lihat saja, ketika kita sayang pada seseorang, maka bagaimanapun orang itu melakukan kesalahan pada kita, selalu saja ada ruang kosong untuk memaafkan. Bagaimanapun ia membuat pusing kita, memberi pekerjaan buat kita, toh dengan senang hati (meski awalnya mengeluh) kita tetap menjalaninya.

Nah, rasa sayang pada sebuah lembaga/organisasi juga bisa diibaratkan rasa sayang pada "orang". Tidak jauh beda. Hanya masalah apa atau siapa yang disayangi. Semua sama saja, kok.

Marah. Benci. Kecewa. Dendam. Caci maki. Lelah. Semuanya adalah warna-warni sebuah kerja sama. Selama rasa sayang itu hadir dalam diri, baik sesama tim kreatif maupun kepada lembaga, sebesar apapun event yang digelar niscaya akan terlaksana dengan baik. Semakin berat prosesnya, memupuk rasa sayang dalam kebersamaan itu juga semakin kuat.

Hasilnya?? "Ikatan" diantara "pemilik rasa sayang" itu semakin kuat...

--Imam Rahmanto, 9/4--

You Might Also Like

0 comments