Mengembangkan Minat Menulis di Dunia Maya

April 22, 2012

Baca Juga

Berbicara mengenai dunia maya, pasti tidak jauh-jauh dengan browsing, jejaring pertemanan, dan social media. Istilah internet sudah tidak asing lagi di telinga kita. Semua kalangan juga sudah bisa menikmatinya.

Berbeda saat dulu, orang-orang yang memanfaatkan fasilitas internet masih bisa dihitung jari. Bahkan di tempat saya tinggal dulu (Kab. Enrekang), saya mesti menumpang di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk bisa menikmati fasilitas internetnya. Itupun komputer yang bisa dipakai internetan hanya tiga tiga perangkat. Wah, bayangkan, saya harus menempuh perjalanan sekitar 3 km untuk bisa mengakses sambungan internet itu.

Nah, kini nyaris di semua tempat sudah menyediakan fasilitas internet. Tidak heran, orang-orang khususnya kalangan remaja berlomba-lomba untuk membuka akun jejaring sosial mereka, baik melalui handphone maupun connect by desktop.

“Hal yang pertama mereka buka ketika terhubung ke internet ya pasti buka facebook dulu,” celoteh seorang teman saya.

Memang benar, saya melihat kebanyakan orang, terkhusus teman-teman di lingkungan saya tidak pernah lepas dari kehidupan facebooknya. Setidaknya, kata mereka, harus update status dulu baru maknyus rasanya. Kalau bisa, upload foto juga sekalian.

Sebenarnya jejaring sosial seperti facebook maupun twitter itu bisa dikatakan layaknya sebilah mata pisau. Di satu sisi, menimbulkan dampak-dampak negatif. Di sisi lain, bisa memberikan manfaat jika dijalani sesuai dengan aturan-aturan berlaku.

Saya pun sebenarnya sering memanfaatkan situs-situs pertemanan seperti facebook itu. Di kala ada kesempatan, saya menyempatkan diri untuk membukanya. Bukan untuk update status, melainkan hanya sekadar melihat pemberitahuan-pemberitahuan secara berkala. Update status juga dilakukan seperlunya saja. Jika ada kesempatan, saya akan bergabung dengan komunitas-komunitas yang sesuai dengan minat saya, menulis.

Sumber gambar: Google Search

Untuk mengembangkan minat saya itu, saya juga memanfaatkan sarana yang sudah disediakan di jejaring internet, yakni blogging. Dengan memanfaatkan wadah sebuah blog, saya bisa menyalurkan tulisan-tulisan saya yang terbengkalai di dunia nyata. Saya pun lebih enjoy ketika menulis melalui sebuah social media seperti blog. Otomatis, internet memang menyediakan wahana bagi kita untuk mengembangkan minat kita dalam hal apa saja. Baik itu menulis, film, olahraga, desain, tata busana, dan sebagainya.  Internet malah menjadi ladang “tak terbatas” untuk menuai ilmu. Ilmu jahat sekalipun ada.

Saya pun sudah merasakannya. Semisal ketika saya bergabung dengan social media seperti Kompasiana, banyak hal yang saya dapatkan. Orang-orang saling berbagi ilmu di dalamnya. Kita pun bisa terhubung dengan jejaring pertemanan di dalamnya. Sehingga mustahil, tulisan yang kita posting tidak akan ada yang membacanya. Semenjak bergabung di dalamnya pula, saya semakin terlecut untuk bisa tetap berkarya, karena iri melihat karya orang lain. Mereka bisa, kenapa saya tidak? 

Teman-teman saya juga bertambah. Kebetulan jika ada pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh pihak social media sendiri, maka para anggotanya lah yang diundang untuk hadir. Teman maya yang kita miliki bisa ditemui juga pada akhirnya.

Tak bisa dipungkiri, dengan berinteraksi di dunia maya melalui tulisan-tulisan saya, ada kepuasan tersendiri yang ditimbulkan. Setiap selesai satu tulisan, maka saya puas. Tak mengapa hasilnya buruk. Selama kita ingin belajar, hal itu sah-sah saja. Apalagi ada para komentator tulisan yang siap memperbaiki dan berbagi pengalaman terkait tulisan kita. Malah saya juga merasa puas ketika ada (meskipun hanya satu) yang berkomentar di tulisan saya. Itu tandanya tulisan kita dibaca. Hehe..

Tak heran jika kebanyakan orang mencari tulisan (lebih mudahnya) melalui googling. Irit waktu dan efisien. Oleh karena itu, dengan menulis di blog maupun social media lainnya, ada kemungkinan tulisan saya bakalan dibaca karena terindeks google.

--Imam Rahmanto--


You Might Also Like

0 comments